Di bawah terik matahari
Cuaca sekarang panas ya?? Mungkin tepatnya puanas pol kalo kata orang Surabaya.
Hari itu saya dalam perjalanan menuju praktekan, jam setengah 10 pagi tapi panasnya sudah amit-amit. Memang ada sih dalam resolusi tahunan saya untuk berhenti mengeluh hal2 yang tak perlu, tapi *ya, selalu ada tapi
* matahari akhir-akhir ini terlihat menyebalkan ;P
Pas di daerah pasar Sanglah, biangnya keramaian, saya distop oleh tukang parkir.
“Adduh mati dah!! Pake acara berhenti ya panas begini, mana ada pasien nunggu pulak” omel saya dalam hati.
Tunggu dulu sepertinya pak tukang parkir yang berumur 40an dengan gurat2 lelah di wajahnya memberikan senyum pada saya.
“ok ok, saya udah berhenti koq pak” *tetep heran koq tumben ya ada tukang parkir senyum-senyum*
Setelah mobil yang dia aba-aba itu lewat, pak parkir itu mempersilahkan saya lewat sambil kembali tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya seraya bibirnya bergumam “terima kasih”.
Bukan bapak yang seharusnya mengucapkan terima kasih, karena bapak mengajarkan saya untuk senantiasa bersyukur. Bapak hanya mendapatkan uang seribu rupiah hasil berpanas-panasan dan saya mengejar uang yang berkali lipat dibanding anda dengan mengomel di mobil berAC.
Terima kasih, pak parkir…
You really make my terik day became sejuk day…
kamu di bali toh sekarang, mi…
senangnya masih ada ya yg seperti itu sekarang ini.
jadi kangen bali hehehe…