monyet dan kepiting
Jaman SD dulu, terlebih kelas VI lagi ngetrend2nya yang namanya ngisi buku kenangan, secara beberapa bulan ke depan kami semua sudah mengganti seragam kami dengan putih biru. Yiay!! Keren bangedd tuh yang namanya anak SMP dulu dalam bayangan seorang mia kecil
Hal yang pasti ada di buku kenangan selain foto dengan pose andalan adalah bintang dan shio saya, cancer dan monyet, tapi ya gitu deh, Cuma jadi pelengkap biodata diri aja selain kata mutiara “Salam Manis Selalu” atau “Surga ada di Telapak Kaki Ibu”
.
Mau gimana lagi? Icon kepiting dan monyet yang senantiasa menjadi jati diri saya, sepertinya tidak bisa dibanggakan. Coba kalo shio naga atau ular, kan lebih tangguh kesannya
. Kata orang-orang, bintang cancer itu gemar mencubit dan moody. Hello all the ladies in the world, adakah diantara kalian yang tidak pernah ngambek tanpa sebab? Suka mencubit? Ini juga sepertinya nggak banget. *Gak akurat, ah!*
Trus kalo shio monyet, katanya cerdas dan lihai. Nah ini dia, wong saya begitu yang namanya terserang hawa panik, segala sesuatunya bisa kacau balau. Bahkan pasangan saya berkata,” Kamu tuh kalo lagi diharapkan berpikir, tak berpikir. Giliran takkuharapkan berpikir, kau berpikir….”
Salah besar kan semuanya prediksi karakter saya?
Anehnya orang2 di sekeliling saya banyak juga yang percaya dengan ramalan, seperti salah seorang teman yang demen banget dengan segala bentuk peramalan, mulai dari Tarot, membaca garis tangan sampai rela datang ke Surabaya untuk bertanya kepada orang pintar tentang nasibnya dan keluarga berdasarkan shionya. Soal jodoh dan bepergian jauh pun tidak boleh sembarangan, pokoknya mau apa aja harus sesuai berdasarkan primbon deh. Dia percaya, kalau mau hidup aman tentram, selisih umur pasangan sebaiknya beda 4 tahun karena sesuai dengan kaki meja. Yah, filosofinya kalo kaki meja hilang satu, masih ada 3 yang menahan. Bukannya bisa hilang satu tumbuh seribu ya
Kalo sesuai filosofi itu, trus nasib saya dengan pasangan gimana dunk?
Sebaliknya terjadi pada saya, pantang yang namanya berdekatan dengan hal ramal meramal. Entah dari mana pengaruh perbintangan dan tahun lahir bisa menjadi patokan karakteristik seseorang saya tidak tahu, tepatnya juga tidak mau tahu. Karena bagi saya hal itu sangat tidak masuk akal, apalagi saya ini tipe pengkhayal dan pemikir tingkat tinggi giliran baca ramalan yang gak enak, uh malah tambah kepikir yang nggak2. Mending gak usah tau sama sekali.
Sampai minggu lalu, saya iseng2 membaca femina edisi imlek yang memberikan bonus peruntungan di tahun tikus, baca dikit, eh koq ada benernya ya? Diterusin baca, koq bener terus? Kebetulan atau tidak, disebutkan bahwa tahun ini yang baik untuk warga kera
, fiuh ramalan yang menyenangkan di saat banyak kebimbangan melanda nih, diimani aja deh tahun ini bagus buat kita semua, terlebih para monyet. Nah yang jadi masalah, ramalan pembantu saya di rumah yang bershio kuda “tahun ini harus hati-hati dengan beberapa penyakit, terutama sapi gila dan flu burung!”. O’oooo…. Sebagai imbasnya, keluarga saya semua kena akibatnya, di menu meja makan pun beralih menjadi menu vegetarian dan ikan pindang. Ga papa deh, itung-itung menghindari sapi gila dan flu burung juga terbebas dari kolesterol.