Seandainya….
Sudah hampir 18 tahun mami meninggal, dan tanpa terasa banyak hal yang terlewat tanpa kehadirannya. Bisa dibilang saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini, terbiasa mengurus adik saya yang kecil yang tanpa saya sadari juga sudah berumur 20 tahun, terbiasa memendam rasa kangen ke sudut hati yang paling dalam, terbiasa menekan rasa iri saat teman pamer baju pemberian mamanya, terbiasa menjadi wanita yang kelihatannya tangguh.
Namun pada saat2 tertentu, i can’t help myself…
Saat ada cerita yang sekiranya tidak dapat saya ceritakan pada keluarga dan pasangan saya, saya merindukannya.
Saat saya kebingungan memutuskan langkah apa yang harus dilakukan sekarang, saya butuh dukungannya.
Saat main-main dengan anjing di halaman belakang rumah, saya ingin dia ikut ada di sana, bersama2 tertawa melihat kelakuan bodoh elly dan maya.
Saat persiapan kelulusan kemarin, saya bayangkan betapa senangnya ada yang nemenin ngublek2 JMP, ke tukang jahit dan memberi masukan sanggul macam apa yang pantas untuk wanita berkepala kecil macam saya.
Saat penggelaran, seandainya dia melihat anaknya di depan membaca sumpah pasti amat banggalah hatinya.
Saat saya menulis postingan ini, “mi, mia kangen…..”
Tenang Mol..
She knows…
coz she’s always in your heart.
sabar yaa..:)
Gapapa kok kalo mo ke JMP lagi, tak temeni
rada telat kasih komennya nih…
Kehilangan emang perasaan paling gak enak. walopun kata orang time heals, it doesn’t. Just remember that she’s with you. Through the memories. and from heaven above =)
we all with u say,….;)