Maskaraku, bumerangku
Mozart pernah berkata, dalam hidup peran bakat hanya 10%, sisanya adalah kemauan. Menurut saya, walau hanya sekian persen, bakat cukup berpengaruh dalam hidup dan biasanya sudah terlihat sejak kecil.
Jika ingin merunut dari belakang, bakat yang terlihat dalam diri saya sedari mengenal yang namanya cermin adalah kegemaran saya bercentil ria. Entah itu sekedar mematut-matut diri, atau mencoba segala jenis perhiasan milik mama tercinta.
Untungnya, kebiasaan malu-maluin itu tidak berlangsung lama
. Tapi kecentilan itu tetap ada dalam diri saya sepertinya, dan kali ini saya kena getahnya…
Minggu malam kemarin, teman saya menikah. Berhubung saya akan pergi dengan dia, saya ingin tampil cantik
. Sedari sore saya sudah menyiapkan gaun biru polkadot, kalung dan sepatu. Kemudian tiba urusan mempercantik wajah, nah… sayangnya kecentilan saya dalam hal dandan agak2 terbatas. Jadi saya pakai seadanya dan sebisanya, eye liner biru, eye shadow biru dan lipstick.
Oia! Maskara! Jarang pakai sih, tapi karena saya masih harus ke gereja, baru ke resepsi, hmm… boleh juga deh pake tipis-tipis.
Taraa!! I’m ready for tonight…
Setelah gereja usai dan berjumpa dengan dia, kami bergegas menghadiri resepsi, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih. Icip sana icip sini, bertemu dengan teman-teman, akhirnya kami berniat menghabiskan malam dengan berjalan-jalan di mall.
Masuk mall dengan penerangan yang cukup, kecentilan saya mulai muncul..
“Bang, aku pake eye liner ama mascara lhoo…” *ketip ketip*
“Oo.. ya ya..” *ngelirik bentar, tampang tetep*
“Maunya aku bilang tadi, tapi di kawinan kayanya cahayanya gak terang terang amat”
“He eh, kliatan koq sekarang, yang biru2 itu kan?”
Percakapan tadi berlanjut saat kami duduk ngubrul ngubrul di McD.
“Apaan sih diliatin mulu?”
“Ya gak pa pa ih! Mangnya gak boleh liat kamu?”
“Iya sih, tapi jangan diliatin terus!”
“Eh, itu yang namanya eye liner tu bisa pecah2 gitu ya?”
“Umm.. iya kali, emang biasa gitu koq kalo dah seharian pake…”
Dasar lelaki kali, ya dia hanya manggut2. Gak tau juga ngerti maksud saya ato tidak.
Malam berakhir sudah. Pulanglah saya ke kost dengan perasaan riang karena hari ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan. *i’m the queen of the day today* Naik ke atas, buka pintu kamar, ganti baju, dan tiba saatnya membersihkan wajah, berasa tebal, habis make up semalaman…
OH MY GOD!!
Wajah siapa yang saya liat di kaca? Mia ato PANDA??!!
Tidakk!!!
Lingkaran hitam apa ituuhh??
Kenapa dari tadi saya tidak bercermin? Pantesan aja dari tadi orang2 di sekitar saya pada takjub melihat saya. Saya pikir begitu cantikkah saya hari ini??
Ternyata…
Eye liner yang saya banggakan luntur!!!
Niat sih boleh, ingin tampil cantik, apa daya malam ini saya tidak menjadi queen of the day, melainkan panda of the day!
NB : Lain kali, pakai eye liner dan maskara waterproof saat pergi ke pesta! Terutama pada saat bersama pasangan anda!
Dan ingat berkaca ke manapun anda pergi *centil mode on*
Finally,…
Sejak saya mengerti cara berkomunikasi yang baik dan benar *saat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar tapi beberapa tingkat di atas sekedar menghafalkan 3 bersaudara Wati, Budi dan Iwan*, saya sudah mulai menyukai orang yang beraksen khas. Keanekaragaman logat ini membuat saya bangga menjadi bangsa Indonesia dan menjadikan slogan Bhinneka Tunggal Ika bermakna, bukan sekedar hafalan yang harus diingat luar kepala.
Beberapa di antaranya, logat Bali *yeah, ini wajib hukumnya!*, logat Betawi, logat Sumatra dan my top of the list, logat Sunda. Entah karena cengkoknya yang halus dan berirama, atau karena Paris Van Java ini begitu menarik buat saya, dalam hal makanan enak, bangunan kuno yang eksotis, udara sejuknya, tempat nongkrong murah nan nyaman yang tidak bisa saya dapatkan di Surabaya ini…
Hmm, pastinya saya tidak tahu, karena saya memang belum pernah menginjakkan kaki saya di bumi Priangan ini.
Sampai…
Yeah rite! Awal November ini, saya bersama teman2 kuliah berhasil menjejakkan kaki di kota ini. Niat mulia ikut seminar sehari tertutup oleh niat jalan-jalan selama 2 hari.
Begitu kereta berhenti, portir2 berdatangan dan menawarkan bantuan. Saya sendiri dengan gak tau malunya sudah berpikir dalam hati, “Ya ampun senengnya denger orang-orang ini ngomong, bahkan pak portir pun bisa bahasa Sunda!”. Adalagi yang lebih memalukan, ketika saya jalan keluar menuju taxi, melihat anak kecil bisa berbahasa Sunda saja saya sudah takjub, “Iihh.. kecil-kecil dah pinter” *norak kan?*
Tidak sia sia saya jatuh cinta dengan kota ini jauh sebelum saya ke sini, yah seperti lagu Savage Garden, I knew I love U before I met U *halah* pemandangan, suasana dan FO-FOnya,
I love this town…
Masih banyak tempat yang blum sempat saya kunjungi, menurut kata seorang teman lama, jika kita sangat ingin pergi ke suatu daerah dan ternyata nantinya tidak tercapai, cepat atau lambat kita akan mengunjungi daerah itu lagi. Yah, saya hanya bisa mengamini kata-katanya dan berharap suatu saat nanti saya akan kembali menjelajahi kota ini.
Yeah, I will…