mollie’s world


P.S. I Love You

“Beib, nonton yuk? Kan dah lama banget ga nonton..”, ujar saya padanya waktu kami kencan di Galaxy.
Horton Hears a Who!?, 10.000BC?, atau P.S. I Love You? Pilihan yang sulit bagi saya, karena pengen nonton tiga tiganya ;P *secara bioskop di Bali agak2 menyedihkan*.
Dan akhirnya setelah ditimbang-timbang antara gajah, mammoth dan gerard butler ;), 2 tiket menonton leonidas tanpa pasukan spartannya, ada di tangan kami…

Film dibuka dengan adegan pertengkaran ga penting antara Holly Kennedy (Hillary Swank) dengan suaminya Gerry (Gerard Butler) yang berakhir manis. Selang beberapa bulan, Holly harus menerima kenyataan bahwa sang suami meninggal karena kanker otak. Depresilah si Holly ini…
Sampai di ulang tahunnya yang ke 30, ia mendapati banyak kejutan berupa kue ulang tahun, rekaman suara Gerry dan surat-surat yang secara rutin mulai menghiasi hidup Holly kembali dan secara perlahan membantunya menata hidup yang baru tanpa kehadirannya. Uniknya lagi, setiap akhir dari surat Gerry selalu disertai dengan kalimat P.S. I Love You…

Pilihan kami tidak salah rupanya, malah entah kenapa terasa begitu pas. Kenapa?
- pertengkaran sepele kerap menghiasi hubungan saya dengannya, apalagi saya ini tipe wanita yang mau bilang ‘b’ mesti ke ‘c’ dulu *mbulet, kata orang Surabaya* dan dia tipe yang asal bicara.
“Terkadang apa yang aku bilang ya gak ada maksud apa-apa, jangan dimasukin hati” seperti kata Gerry.
Nah, persis banget tuh, dia nyeletuk satu kalimat gak pas, saya bisa salah tanggap dan acara ngambek mode on pun dimulai.
- Adegan Holly tumben2 nyanyi di bar dan jatuh terjerembab.
Kalo ini, mia banget, jaman dulu jangan harap denger saya bernyanyi di muka umum, akhir2 ini aja baru berani nyanyi klo karaoke bareng temen2 Jz Kampunk. Plus ceroboh yang sudah saya bawa sejak lahir kali ya? Kesandung, jatuh, bawa makanan tumpah, dll. Yup, that’s me.
Sedangkan Gerry, orangnya kacau, pinter main gitar n bisa nyanyi tanpa merusak indera pendengaran. Pas dengan dia yang katanya mantan anak band ;)
- Irlandia, negara dengan pemandangan yang cocok dijadiin puzzle ;P, negara yang termasuk 30 places I have to see before I die *soalnya 1000 places kan agak2 gak mungkin :)*. Yaaah, sapa tau pembaca blog saya yang budiman ada yang berminat membiayai kami ke sana *wink wink*
- We love Rewindnya Paolo Nutini ;)
Lagu lain2nya juga enak dan membuat saya berkeinginan membeli CDSoundtracknya.

Walau ceritanya simpel, gampang tertebak, dan pemeran wanita agak gak pas menurut saya, berasa this movie made for us. *tsaaaaah*
Jadi, bagi yang mau berlinang air mata sejenak, atau menonton Hillary Swank tampil sebagai wanita, silahkan menonton film ini dan berbagi kesan dengan saya ;)

Oia, untuk si dia, P.S.I Love You….


monyet dan kepiting

zo.jpgJaman SD dulu, terlebih kelas VI lagi ngetrend2nya yang namanya ngisi buku kenangan, secara beberapa bulan ke depan kami semua sudah mengganti seragam kami dengan putih biru. Yiay!! Keren bangedd tuh yang namanya anak SMP dulu dalam bayangan seorang mia keci.l ;)

Hal yang pasti ada di buku kenangan selain foto dengan pose andalan adalah bintang dan shio saya, cancer dan monyet, tapi ya gitu deh, Cuma jadi pelengkap biodata diri aja selain kata mutiara “Salam Manis Selalu” atau “Surga ada di Telapak Kaki Ibu” :D.

Mau gimana lagi? Icon kepiting dan monyet yang senantiasa menjadi jati diri saya, sepertinya tidak bisa dibanggakan. Coba kalo shio naga atau ular, kan lebih tangguh kesannya ;). Kata orang-orang, bintang cancer itu gemar mencubit dan moody. Hello all the ladies in the world, adakah diantara kalian yang tidak pernah ngambek tanpa sebab? Suka mencubit? Ini juga sepertinya nggak banget. *Gak akurat, ah!*

Trus kalo shio monyet, katanya cerdas dan lihai. Nah ini dia, wong saya begitu yang namanya terserang hawa panik, segala sesuatunya bisa kacau balau. Bahkan pasangan saya berkata,” Kamu tuh kalo lagi diharapkan berpikir, tak berpikir. Giliran takkuharapkan berpikir, kau berpikir….” :( Salah besar kan semuanya prediksi karakter saya? :P

Anehnya orang2 di sekeliling saya banyak juga yang percaya dengan ramalan, seperti salah seorang teman yang demen banget dengan segala bentuk peramalan, mulai dari Tarot, membaca garis tangan sampai rela datang ke Surabaya untuk bertanya kepada orang pintar tentang nasibnya dan keluarga berdasarkan shionya. Soal jodoh dan bepergian jauh pun tidak boleh sembarangan, pokoknya mau apa aja harus sesuai berdasarkan primbon deh. Dia percaya, kalau mau hidup aman tentram, selisih umur pasangan sebaiknya beda 4 tahun karena sesuai dengan kaki meja. Yah, filosofinya kalo kaki meja hilang satu, masih ada 3 yang menahan. Bukannya bisa hilang satu tumbuh seribu ya ;) Kalo sesuai filosofi itu, trus nasib saya dengan pasangan gimana dunk?

Sebaliknya terjadi pada saya, pantang yang namanya berdekatan dengan hal ramal meramal. Entah dari mana pengaruh perbintangan dan tahun lahir bisa menjadi patokan karakteristik seseorang saya tidak tahu, tepatnya juga tidak mau tahu. Karena bagi saya hal itu sangat tidak masuk akal, apalagi saya ini tipe pengkhayal dan pemikir tingkat tinggi giliran baca ramalan yang gak enak, uh malah tambah kepikir yang nggak2. Mending gak usah tau sama sekali.

Sampai minggu lalu, saya iseng2 membaca femina edisi imlek yang memberikan bonus peruntungan di tahun tikus, baca dikit, eh koq ada benernya ya? Diterusin baca, koq bener terus? Kebetulan atau tidak, disebutkan bahwa tahun ini yang baik untuk warga kera ;), fiuh ramalan yang menyenangkan di saat banyak kebimbangan melanda nih, diimani aja deh tahun ini bagus buat kita semua, terlebih para monyet. Nah yang jadi masalah, ramalan pembantu saya di rumah yang bershio kuda “tahun ini harus hati-hati dengan beberapa penyakit, terutama sapi gila dan flu burung!”. O’oooo…. Sebagai imbasnya, keluarga saya semua kena akibatnya, di menu meja makan pun beralih menjadi menu vegetarian dan ikan pindang. Ga papa deh, itung-itung menghindari sapi gila dan flu burung juga terbebas dari kolesterol. ;)


Seandainya….

200554506-0011.jpgSudah hampir 18 tahun mami meninggal, dan tanpa terasa banyak hal yang terlewat tanpa kehadirannya. Bisa dibilang saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini, terbiasa mengurus adik saya yang kecil yang tanpa saya sadari juga sudah berumur 20 tahun, terbiasa memendam rasa kangen ke sudut hati yang paling dalam, terbiasa menekan rasa iri saat teman pamer baju pemberian mamanya, terbiasa menjadi wanita yang kelihatannya tangguh.

Namun pada saat2 tertentu, i can’t help myself…
Saat ada cerita yang sekiranya tidak dapat saya ceritakan pada keluarga dan pasangan saya, saya merindukannya.
Saat saya kebingungan memutuskan langkah apa yang harus dilakukan sekarang, saya butuh dukungannya.
Saat main-main dengan anjing di halaman belakang rumah, saya ingin dia ikut ada di sana, bersama2 tertawa melihat kelakuan bodoh elly dan maya.
Saat persiapan kelulusan kemarin, saya bayangkan betapa senangnya ada yang nemenin ngublek2 JMP, ke tukang jahit dan memberi masukan sanggul macam apa yang pantas untuk wanita berkepala kecil macam saya.
Saat penggelaran, seandainya dia melihat anaknya di depan membaca sumpah pasti amat banggalah hatinya.
Saat saya menulis postingan ini, “mi, mia kangen…..”


Bye bye, oma…

Hari itu berjalan biasa, malam hari di Surabaya yang panas, kost2an sepi pada mudik lebaran. Saya memutuskan tidak pulang karena persiapan ujian yang dengan manisnya nama saya terjadwal 3 hari setelah awal masuk libur panjang, ketimbang ga tenang di rumah, so here I am, sendiri dan kepanasan ga bisa tidur.

Hp saya berbunyi, *Reta? Ada apa adekku satu ini tumben jam setengah sepuluh malem telp?

“Ya, ta? Ada apa non malam2 begini?”
“Mia, oma jatuh dari kamar mandi, trus muntah-muntah ga sadar. Ini lagi di rumah sakit, titip doa ya, sist…”

*Waktu terasa berjalan lambat seketika*

Akhirnya sampai jam 12 belum sadar, oma harus dioperasi karena ada perdarahan di otak. Jam setengah 3 operasi selesai tapi oma masih di ICU. Bahkan sampai kemarin oma belum sadar, tensi masih tidak stabil.

Hari ini, juga berjalan seperti biasa, siang hari di Surabaya, tidur2an di kamar, hp saya kembali berbunyi, Reta telp lagi.
“Halo dek…” *Yes, I knew what she was going to say”
“Mia, oma udah berangkat, jam setengah 3 tadi”
“…….”
“Mia mau doa buat oma? Ini telpon reta taruh di kuping oma”
“……, Nggak deh ta, aku doa sendiri aja, tetep tabah ya”
“Iya, keep prayin ya, nanti reta kabarin lagi”

Ya, saya tau berita ini akan datang kapan saja, hanya tidak menyangka bakal datang secepat itu. Saya tidak tau harus berdoa apa, hanya duduk terdiam, tanpa terasa pipi saya basah.

“Tuhan, tak terbatas kasih setiaMu, Kau tau apa yang terbaik untuk kami lebih dari apa yang kami bisa bayangkan. Jaga oma ya, Tuhan. Terima kasih Kau telah memberikan kami seorang oma yang menjadi panutan bagi kami semua, oma yang baik dan selalu care dengan cucu-cucunya.”

Oma sudah tidak bersama dengan kami semua, tapi kenangan itu ada dan akan tetap ada. Bagaimana kecerewetannya sedari saya kecil, kalau makan rambut harus diikat agar tidak kotor. Jam 4 sore sudah harus mandi, kuku ga boleh panjang, tidak boleh makan di tempat tidur. Pokoknya hidup dengan oma ini penuh dengan aturan hidup bersih, steril dan hygienis ;)
Entah kenapa oma begitu peduli dengan yang namanya kesehatan, sehingga beliau mengharapkan kalau bisa semua cucu2nya jadi dokter. Oma juga selalu rutin membaca jurnal kesehatan, padahal saya aja kalo ga ada tugas, jarang banget nyentuh yang namanya dental journal ;P

Malah terkadang pinteran oma ketimbang kami kami para cucu ;) tapi sering timbul masalah sendiri gara2 ‘kepintaran’ oma. Suatu ketika oma sariawan dan radang tenggorokan, berkumur-kumurlah oma dengan Betadine. Saking disiplin dan tekun, dipakainyalah betadine itu sampai habis satu botol padahal mestinya pemakaian dianjurkan hanya 4-5 hari saja. Akibatnya flora normal rongga mulut juga ikut teler kena betadine, sehingga lidah oma malah terkena jamur gara2 keadaan mulut yang tidak seimbang. Duh duh duh, omaku ini…

Hobi saya yang kata teman2 saya ‘oma oma banget’, mungkin juga gara2 sejak kecil terbiasa melihat oma merajut. Oma bisa duduk sambil merajut berjam2 depan tv melihat acara kegemarannya yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan berita, jangan harap liat oma saya nonton sinetron. ;) Saya jadi ketularan punya hobi yang berhubungan dengan benang, terutama kristik, kalau merajut itu susahnya setengah mati, sehingga kerajinan tangan saya ketika kelas 3 SD, dibuatkan oma saya tercinta. ;) Beliau juga sering membuatkan saya tas rajutan dan boneka2 rajutan yang rapiiii banget, tak jarang teman saya meminta oma untuk dibuatkan tas serupa.
Bahkan waktu saya SMA, oma sudah menyiapkan segepok taplak renda2 rajutan, untuk dipajang di rumah ketika saya sudah menikah kelak :P

Tidak semua hal2 bagus dari oma yang menurun pada saya…
Hal lain yang sangat menonjol dari oma adalah kerapiannya menyimpan barang. Nah, klo ini bukan saya banget deh. Barang penting aja bisa hilang kalo saya yang pegang. Sedangkan oma, bedak dan sabun2 sisa kepunyaan mama saya saja masih beliau simpan, itu pun masih ditaruh dalam kotak dan dibungkus tas plastik.
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari seorang Min Sekarwati.

I’m gonna miss her…
We all gonna miss her…
Segala keluh kesah tentang kesehatannya, kekhawatirannya, kecerewetannya dan gelak tawa itu tidak ada lagi…
Selamat jalan, omaku sayang…

200169885-0011.jpg- Oma selalu ada dalam hati kami semua ; mia, sani, areta, deo, adrian, lia, abe, ale, jane, sania-


Fatsy mode on

poto.jpg*Beratku 54! Matiiiii deh!! Ini beratku paling gawat seumur-umur*
Pikiran yang terlintas saat kemarin menimbang  di tempat teman saya. Mestinya tanpa menimbang, tahu juga sih ukuran saya semakin menggembung, terbukti dengan celana baru dibeli sudah agak2 ketat di beberapa bagian tertentu. Huks.. :(

Padahal badan saya dari jaman SD sampai kuliah semester awal itu kering kerontang. Naikin berat badan itu susah banget! Mau makan oink oink tiap hari juga teteup aja 46 kg. Plus lagi sedari saya SD ampe SMA tiap pagi dicekokin ama 1 mug susu dan minum scott’s emulsion. Dipikir2 aneh juga, padahal sekarang saya ngekos, bukan yang bisa ambil makanan tiap saat tiap waktu di kulkas seperti di rumah. Apa gara-gara semakin tua metabolisme tubuh tambah lambat ya? Hihi.. Apa jadinya kalo saya udah jadi oma-oma?

Nafsu makan saya juga melonjak tajam.
Masa makan saya lebih banyak ketimbang dia?
Seperti minggu lalu contohnya, pas pulang gereja saya sudah langsung kepikiran makanan dan mengajaknya makan coto makasar. Oia lupa, pas di parkiran saya membeli 2 bungkus kacang goreng ;) Sesampainya di tempat makan, setelah memesan coto 2 porsi, i can’t help my self untuk tidak mengambil krupuk dan telur rebus *tolooong*
Jadinya pas bayar di kasir, pesanan saya coto 1, telur 1, krupuk 1, buras 2, sedangkan dia, coto 1 dan buras 1. *lama-lama beneran bisa jadi pasangan kodok ni, yang betina lebih besar* :(

Pokoknya segala sesuatu terlihat lebih menggiurkan beberapa bulan belakangan ini, mulai dari mi goreng indomi kek, nasi padang yang hard to resist, bebek goreng, bahkan nasi putih dengan pindang goreng aja bisa nambah 2x, duh semuanya deh pokoknya. Gawat!!


Cerita hujanku

Hujan, biasanya membawa cerita tersendiri bagi saya.
Saat gerimis mengundang, terbayang saya duduk di sofa empuk yang nyaman diiringi alunan suara Sade sambil menyeruput segelas mocca hangat. Whatta lovely day…
Atau ketika hujan deras, gambaran yang ada di otak, saya sedang berada di kamar hotel, selimutan, nonton sitkom plus semangkuk popcorn caramel Ace Hardware *saya ga tau nama popcorn ini, yang jelas tiap belinya pasti di Ace Hardware :)*
Nah, yang saya sebut di atas itu ya khayalan saya yang kerap kali hadir jika hujan turun. Kenyataannya saat gerimis saya biasanya ngendon di kamar kost sambil baca novel, demikian pula saat hujan deras kalo ga baca ya tidur.
Tapi tidak demikian halnya seminggu yang lalu…
Tersebutlah kami (3 orang anak kost) kebingungan mencari tempat makan malam karena hujan deras. Mau makan tempe penyet, bisa basah kuyup. Mau makan di depot, pada ga ada uang cash lebih dari 5rb perak. Mau ambil ATM dulu, males, hujannya bo’ deres banget.
“Yawdah, makan pake credit card aja deh, jadi sekalian ke Mall”
Dan akhirnya kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran di Galaxy Mall.
“So? Makan apa nih enaknya?”
“Ya, antara Ta Wan ama Linkcafe aja, yang lain kan kita udah pernah nyoba”
“Aku lagi malas makan chinese food nih”, ujar salah seorang teman saya
“Yawdah coba di Linkcafe aja kan belum pernah”

Hukeh…
Akhirnya duduklah kami bertiga di restoran yang mengkhususkan jual masakan Indonesia ini. Interiornya lumayan bagus dan cukup ramai juga, mungkin banyak orang Surabaya yang bernasib sama dengan kami.
Setelah duduk manis, ambil buku menu, pilih makanan.
*pandang pandangan*
Bukan angka yang menyenangkan bagi anak kost di penghujung bulan..
Mau pesan apa kalo begini harganya?
Sayur asem 10rb. Perkedel jagung 15rb. Sayur urap 15. Ayam goreng sepotong 12rb. Ikan2an 45rb. Nasi 4rb.
“Yah, setidaknya nasi putihnya standar, ga lebih mahal dari papua”
Tapi tetap aja, kami berpikir keras untuk memilih. Akhirnya setelah ga enak diliatin ama mas2 berPDA untuk mencatat menu, kami memesan 3 nasi putih, tumis jagung, sayur asem, bandeng goreng, 2 es teh dan 1 teh manis hangat.
Jreng jreng….
Piring buat kami bertiga datang, tapi hanya digeletakkan begitu saja tanpa diatur.
“Koq ga diaturin sekalian ya? Padahal tempat mahal gini, mestinya pelayanannya juga menunjang dong”
“Iya juga sih, tapi ka, ini juga tempatnya sempit ya, susah makannya nih”
Hmm, bukan awal yang baik untuk menikmati makan malam nih, pikir saya dalam hati.
Dan terbukti.
Nasi pesanan kami datang, ternyata ditempatkan dalam satu bakul alumunium. Porsinya itu loooh, diiiikiiiiitt banget. Bukan gara2 kami kelaparan dan anak kost lho ya, tapi emang amit2 porsinya. *is it better or worse than papua ya?*
Ya sudahlah, mudah2an makanannya masih bisa dipertanggungjawabkan.
Tumis jagungnya datang. Rasanya?
Masih lebih enak jagung bumbu bali buatan saya.
Sayur asem datang. Naaah, akhinya ada yang membuat kami gembira malam ini, rasanya pas. Asemnya, segarnya, hanya porsinya saja yang tidak pas.
Bandengnya belum datang, tapi nasi putih saya tinggal 3 sendok *huks*

Seperti biasa, selesai makan saya meminta tusuk gigi, dan setelah menunggu lama, mbak2nya datang, “maaf mbak, tusuk giginya habis”
“Yeah rite”
Kebulatan tekad kami seusai makan, ini jelas2 kunjungan pertama dan terakhir kami di sini!!!

Hujan hari itu, benar-benar membawa cerita tersendiri buat kami.


Blood is thicker than water

200119049-001.jpgBlood is thicker than water…
Saya pernah mendengar quote itu dalam sebuah film, entah apa judulnya, lupa.. Ada benarnya juga kalimat itu, contoh konkritnya berupa hubungan saya dengan Sani, adik saya yang berselisih usia 7 tahun, walau terpaut beda usia yang cukup jauh, hubungan kami cukup dekat satu sama lain. Sejak 2 tahun lalu, ada saja kejadian yang terjadi pada saya terjadi juga padanya, hal itu bisa berupa keberuntungan, dapat pula berbentuk kesialan yang lumayan bikin bete hati dan jiwa.

Diawali dari saya pernah kecolongan HP di kost2an saya yang lama karena keteledoran saya juga sih, membiarkan pintu kost tidak terkunci pada saat ada orang tak dikenal bertandang ke kost. Eh, sekitar sebulanan kemudian N-Gage Sani hilang dicuri waktu ia sibuk latihan basket. Apes…

Saya selingi kejadian menggembirakan deh, saat saya tidak lagi memakai status single di frenster tahun `04 lalu, si Sani ini pun berpacaran berkat hasil mak comblang teman SMAnya… Tetapi oh tetapi, di saat saya kembali mengganti status in a relationship menjadi jomblo, 2 bulan berselang, ia mengikuti jejak saya *benar-benar adik yang toleran* :P

Kecelakaan pertama yang saya alami sejak mengganti mobil beberapa tahun lalu, terjadi saat saya sedang menjadi panitia LO suatu kongres, saat menjemput tamu dari bandara Juanda, mobil saya dicium manis sepeda motor, akibatnya kaca lampu pecah dan bumper belakang pesok. Tahun lalu, Sani mendapat mobil dari bapak tercinta, dan baru dipakai beberapa bulan, mobilnya pun ditabrak, dan hasilnya sama persis. Lampu belakang sebelah kiri pecah serta bumper belakang pesok. Mimpi apa ya kedua orang tua saya ini?

Sampai akhirnya, tahun lalu saya dekat dengan seorang pria Batak, yang sudah saya kenal cukup lama sekitar 6 tahun yang lalu. Pada suatu waktu, saya dikejutkan oleh sms adik saya yang bilang dia lagi ‘pedekate’ dengan cewe Batak yang dikenalnya saat ikut ret reat kampus.
“Buseeeet, apa apa’an nih masa sampe kaya gini kita juga barengan, Lit?” ujar saya kepada Lita, salah seorang sahabat karib saya yang juga orang Batak.
“Haha, yaaaa, seandainya kalian butuh marga nanti, aku siap koq,hehehe, oia, tapi ngomong-ngomong marga si cewe Batak yang ditaksir Sani apa Mol? Jangan bilang kalo Sihombing pisan!”
“Umm.. aku juga lupa nanya Lit, udah kaget-kaget duluan sih waktu dia cerita itu, ntar deh aku tanyain dia”
Yak, dan tentunya sudah bisa ditebak kan? Marga apa yang dimiliki cewe itu… Yeah rite… Like sista like brotha..

Kejadian kami yang terakhir, seperti yang sudah pernah saya singgung di postingan saya sebelumnya, mobil saya untuk yang kesekiankalinya mengalami musibah yang lazim disebut tabrakan! Seminggu yang lalu, kembali lagi bumper belakangnya blesek ditabrak motor.

Mudah-mudahan, kesamaan nasib kami berikutnya merupakan kejadian yang menggembirakan, dan pastinya, no more car accident, please…
Pray for us, will ya?
;)


Belum terlambat kan?

“Hai Mol!! Buset deh! Betah ya ngendon di Bali dari Natal ampe tahun baru? Curang!”
Begitulah rata-rata ‘ucapan’ selamat tahun baru teman-teman ketika bertemu saya yang selama dua minggu lebih raib dari peredaran.

Yaaa, mau gimana lagi, bukan maksud hati mencurangi para sahabat, tapi mungkin memang suatu berkah tersendiri jika saya lahir dan dibesarkan di Pulau Bali ;). Padahal saya ke Bali tujuannya itu ya pulang kampung, bukannya liburan. Toh saya menghabiskan malam tahun baru hanya dengan menonton TV di rumah bersama keluarga.
Ke Kuta? Males ah, jalan Teuku Umar dan By Pass pasti sudah ditutup, macet di mana-mana pasti.
Mau pergi lihat kembang api? Umm… Nggak deh, ABG semua , saya masih tahu diri koq ;).

Merenung sejenak, ritual tetap saya saat memulai hari di tahun yang baru. Walau rata-rata keinginan, harapan dan rencana masa depan bisa dibilang tak berubah drastis dari tahun sebelumnya, yaaa, ada baiknya saya mengawalinya dengan senyum manis dan pikiran yang positif. Betul ga?

Hmm,… Tidak muluk-muluk sih harapan saya ke depan nanti. Berusaha menjadi anak yang dapat membuat orang tua bangga, menjadi kakak teladan yang mampu membina adik-adik, menjadi teman yang dapat dipercaya, dan bisa menjadi ‘wanita tangguh’ di setiap waktu. Mampukah saya mengejawantahkan apa yang telah saya tulis di atas tadi? Mari kita lihat… *jreng jreng jreng*

Sekilas update hidup saya sampai hari ini di tahun babi api.
Elly, anjing saya sudah siap untuk beranak pinak kembali. Rumah di Bali bakal nambah lagi nih penghuninya.
Berat badan saya hanya bisa turun satu kg dari 3 kg yang saya canangkan sejak 3 bulan lalu. *keluh*
Kamar sudah lebih rapi dari biasanya.
Olah raga berjalan ‘agak’ lancar dibanding tahun lalu berkat sepatu baru *thanks dad!*
Cerewet? Teteup kalo ini ;)
TV di kost mati total sejak 2 hari lalu :( bye bye infotainment deh kalo gini ceritanya, walau terkadang saya mengutuk acara pergosipan yang selalu ada di setiap saluran, saya merindukannya juga ternyata.
Dan, ada satu yang rupanya tidak berubah sejak 2006, mobil saya ditabrak lagi *yeah rite, AGAIN!!*.

Sepertinya perenungan saya harus dikoreksi, jadwal awal tahun : Ruwatan mobil! Agar para pengguna jalan di Surabaya menjaga jarak seaman-amannya dengan mobil berplat DK 385 AT.

Saya pikir pertanyaan mampukah pengejawantahkan niat mulia tadi baru bisa terjawab beberapa bulan ke depan nanti. Walau ada beberapa kesialan yang saya alami, but still, i’ll do my best untuk menjalani tahun ini.

Happy New Year, dear friends! *masih berlaku kan?* ;)


Selamat hari ibu, mam!

You never know what you’ve got till you lose it. It’s so true. Sometimes, we take our mothers for granted because they never ask for anything, they just give and give their love without asking for anything in return. We kids never trully appreciate them sometimes until the very end…
So, for you guys who still have your Moms with you, spend more time with them, they don’t want anything more than your company and love…
*Taken from Indonesia’s official Liverpool FC Forum*

Mami, demikian panggilan tercinta saya kepadanya. Menurut setiap anak, mamanya pasti yang terbaik, demikian pula yang saya rasakan. My mom is the best, walau kami sekeluarga telah kehilangan sosok yang luar biasa ini sejak 17 tahun lalu.
9 tahun lebih, saya diasuh dan dididik beliau, waktu yang cukup singkat namun banyak hal tertanam dalam otak saya dan tanpa sadar juga saya terapkan saat mendidik adik-adik.

“Mia, kalo makan yang rapi, harus habis makanannya. Nanti ayam tetangga sebelah mati”
“Tapi tetangga sebelah kan punyanya anjing mam, bukan ayam”
kilah saya sambil berusaha keras menghabiskan makanan, karena waktu kecil saya amat susah disuruh makan *ya ya, kebiasaan ini sudah tidak berlaku ;)*
Hal itu ternyata masih terbawa sampai sekarang, kalau melihat orang yang makanannya tidak habis ataupun berceceran, agak2 terganggu juga melihatnya.

Larangan lain yang seringkali membuat saya kesal semasa SD dulu, harus sikat gigi, cuci muka, cuci kaki sebelum tidur, iya kalau pas belum ngantuk sih ga masyalah, tapi terkadang sudah menjelma jadi Aurora, harus terbangun dan menaati ritual sebelum tidur. Ugghhh… *mami dapet bonus mulut cembetut*
Sekali lagi kebiasaan ini masih saya lakukan sampai sekarang, dan hey! sebagai gadis berumur 20 sekian saya tidak pernah merasakan yang namanya kepala cenut-cenut gara-gara gigi berlubang. *Thanks mom!*

“Jangan baca kalo tidur! Matamu rusak nanti! Kalo nanti-nati pake kacamata mami ga tanggung lho ya?!” *yaaa, I am now*
“Mia, ingat doa sebelum makan!”
“Jangan jajan sembarangan, kalo ada duit lebih, inget ditabung!!”
Adalah omelan yang kerap terdengar di telinga saya *miss that voice*.
Tidak semua omelan yang saya ingat, karena terlalu banyak yang beliau ajarkan kepada saya. Pelajaran tentang hidup, saya juga dapatkan dari ayah saya, adik, guru sekolah, teman, sahabat karib, pacar, pengalaman hidup orang lain bahkan dari infotainment :p
Namun, tanpa saya sadari omelan yang kerap beliau lontarkan menjadi sebuah pembelajaran hidup yang sangat berharga.

Pesan terakhir, sebelum beliau pergi meninggalkan saya untuk selamanya, “Mia, belajar yang rajin ya, buat mami sama daddy bangga…”
Ya, saya masih jauh dari yang namanya wanita sempurna, tapi setiap hari yang terlewat, saya berusaha membuat beliau bangga. Sebagaimana saya selalu bangga memiliki mama seperti beliau.
Anyone can be a mother, but it takes someone very special to be a mom.
Thanks for everything. I love U, and I always do…


Maskaraku, bumerangku

Mozart pernah berkata, dalam hidup peran bakat hanya 10%, sisanya adalah kemauan. Menurut saya, walau hanya sekian persen, bakat cukup berpengaruh dalam hidup dan biasanya sudah terlihat sejak kecil.

Jika ingin merunut dari belakang, bakat yang terlihat dalam diri saya sedari mengenal yang namanya cermin adalah kegemaran saya bercentil ria. Entah itu sekedar mematut-matut diri, atau mencoba segala jenis perhiasan milik mama tercinta.

Untungnya, kebiasaan malu-maluin itu tidak berlangsung lama :). Tapi kecentilan itu tetap ada dalam diri saya sepertinya, dan kali ini saya kena getahnya…

Minggu malam kemarin, teman saya menikah. Berhubung saya akan pergi dengan dia, saya ingin tampil cantik :) . Sedari sore saya sudah menyiapkan gaun biru polkadot, kalung dan sepatu. Kemudian tiba urusan mempercantik wajah, nah… sayangnya kecentilan saya dalam hal dandan agak2 terbatas. Jadi saya pakai seadanya dan sebisanya, eye liner biru, eye shadow biru dan lipstick.
Oia! Maskara! Jarang pakai sih, tapi karena saya masih harus ke gereja, baru ke resepsi, hmm… boleh juga deh pake tipis-tipis.

Taraa!! I’m ready for tonight…

Setelah gereja usai dan berjumpa dengan dia, kami bergegas menghadiri resepsi, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih. Icip sana icip sini, bertemu dengan teman-teman, akhirnya kami berniat menghabiskan malam dengan berjalan-jalan di mall.

Masuk mall dengan penerangan yang cukup, kecentilan saya mulai muncul..
“Bang, aku pake eye liner ama mascara lhoo…” *ketip ketip*
“Oo.. ya ya..” *ngelirik bentar, tampang tetep*
“Maunya aku bilang tadi, tapi di kawinan kayanya cahayanya gak terang terang amat”
“He eh, kliatan koq sekarang, yang biru2 itu kan?”

Percakapan tadi berlanjut saat kami duduk ngubrul ngubrul di McD.
“Apaan sih diliatin mulu?”
“Ya gak pa pa ih! Mangnya gak boleh liat kamu?”
“Iya sih, tapi jangan diliatin terus!”
“Eh, itu yang namanya eye liner tu bisa pecah2 gitu ya?”
“Umm.. iya kali, emang biasa gitu koq kalo dah seharian pake…”

Dasar lelaki kali, ya dia hanya manggut2. Gak tau juga ngerti maksud saya ato tidak.

Malam berakhir sudah. Pulanglah saya ke kost dengan perasaan riang karena hari ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan. *i’m the queen of the day today* Naik ke atas, buka pintu kamar, ganti baju, dan tiba saatnya membersihkan wajah, berasa tebal, habis make up semalaman…

OH MY GOD!!
Wajah siapa yang saya liat di kaca? Mia ato PANDA??!!
Tidakk!!!
Lingkaran hitam apa ituuhh??
Kenapa dari tadi saya tidak bercermin? Pantesan aja dari tadi orang2 di sekitar saya pada takjub melihat saya. Saya pikir begitu cantikkah saya hari ini??
Ternyata…
Eye liner yang saya banggakan luntur!!!
Niat sih boleh, ingin tampil cantik, apa daya malam ini saya tidak menjadi queen of the day, melainkan panda of the day!

NB : Lain kali, pakai eye liner dan maskara waterproof saat pergi ke pesta! Terutama pada saat bersama pasangan anda!
Dan ingat berkaca ke manapun anda pergi *centil mode on*